SAHABAT
Pada setiap masa dalam hidup saya selalu ada orang-orang yang memiliki kedudukan penting. Mereka adalah teman, atau tepatnya sahabat. Entah mulanya kapan, tapi sejak kecil saya selalu memiliki sahabat. Laki-laki maupun perempuan. Ada yang sebaya, ada yang lebih tua juga lebih muda. Mereka selalu mempunyai kedudukan penting dalam hidup saya. Sahabat juga selalu memberikan pengaruh dalam kehidupan saya. Dalam sikap hidup saya. Dalam cara berfikir saya. Semuanya.
Tentu saja, dalam kehidupan berteman selalu ada lika-likunya. Sebagaimana mereka teramat berarti bagi saya, saya pun ingin menjadi teramat berarti bagi mereka. Dulu, saya sering sebel jika sahabat saya pergi dengan orang lain sedang saya tidak diajak. Saya merasa tersisih. Dulu, saya pernah mendiamkan seorang sahabat karena gara-gara dia pacaran, dia tak lagi punya waktu untuk saya. Dulu, saya sering sedih jika mereka tidak bisa menemani saya, tidak mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, tidak (mau) tahu jika saya sedang mengalami hari-hari yang berat. Padahal, tentu saja saya tahu, mereka juga punya teman lain, keluarga, dan urusan sendiri sehingga tidak bisa meluangkan sepenuh waktu untuk saya. Tapi, tetap saja saya merasa sedih.
Terhadap mereka, sahabat-sahabat saya itu, saya buatkan kamar-kamar dalam hati saya. Masing-masing memiliki kamarnya sendiri, masing-masing memiliki kedudukannya sendiri. Jadi, jika ditanya, siapa yang paling berarti atau paling istimewa, maka jawabnya adalah tidak ada. Masing-masing mereka semua unik, special bagi saya. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat-rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu, saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang telah kami lalui bersama. Saya berharap, suatu saat nanti mereka menjadi bagian dari hidup saya kembali hingga saya tinggal membuka pintu kamar hati itu, dan mempersilakan mereka masuk.
Namun, toh, akhirnya mereka pergi satu per satu dari kehidupan saya dengan bermacam-macam alasan. Ada yang memang sengaja menjauh dari saya, tapi sebagian besar karena mereka harus dan telah memiliki kehidupan baru yang berarti juga hadirnya sahabat-sahabat baru dan aktivitas baru. Memang sudah sunatullah, setiap ada pertemuan, akan ada perpisahan.
Dan setiap kali perpisahan terjadi, saya selalu berurai air mata. Patah hati. Kehilangan. Cukup lama saya beradaptasi, mengenang mereka, sampai akhirnya menemukan sahabat baru dan menutup episode bersama sahabat lama. Padahal, saya ingin memiliki sahabat sepanjang masa sehingga dengan bertambahnya usia, akan lebih banyak orang yang hadir dalam hidup saya. Tapi ternyata tidak bisa. Setelah mereka hadir, akhirnya selalu ada saat mereka harus pergi.
Beberapa waktu terakhir, semua kamar dalam hati saya sudah terkunci karena ditinggal pergi penghuninya sedang belum lagi ada sahabat baru. Saat saya kesepian seperti ini, saya baru teringat pada sahabat saya yang lain. Sahabat yang tidak pernah meninggalkan saya, tapi justru saya yang selama ini telah mengabaikan-Nya. Sahabat yang menawarkan rengkuhan-Nya tiap saya bersedih atau terluka hati. Sahabat yang tak perlu saya cemburui jika Dia memberi perhatian pada yang lain karena itu tak pernah mengurangi perhatian-Nya pada saya. Sahabat yang tak bosan mendengar keluhan saya. Sahabat yang pasti tersenyum penuh motivasi jika saya bercerita tentang mimpi dan cita-cita saya. Sahabat yang pasti bersedia mendengar segala permasalahan saya. Sahabat yang -saya tahu- tidak akan pernah meninggalkan saya sampai kapan pun juga.
Kini, saya tak perlu lagi takut ditinggalkan karena keberadaan-Nya tak bisa dibandingkan dengan panjang usia saya. Kini, saya tak perlu lagi khawatir kembali patah hati. Tak perlu berulang kali dengan sedih mengunci pintu sebuah kamar dalam hati saya dan kembali membuka ruang baru. Saya tak perlu membuat ruang di hati saya untuk-Nya karena Dia meliputi seluruh ruang hati.
Dan kini saya gembira karena saya tak perlu lagi merasa kesepian. Dia akan senantiasa menemani saya di manapun saya berada. Urusan-Nya dengan yang lain tak akan membuat-Nya kehilangan perhatian pada saya. Sahabat sepanjang masa, seperti yang pernah saya impikan. Sahabat yang senantiasa mengulurkan tangan-Nya menyambut saya untuk kembali.
Ketika kita kembali pada-Nya dengan merangkak, Dia menyambut kita dengan berjalan. Ketika kita kembali pada-Nya dengan berjalan, Dia menuju kita dengan berlari.
No comments:
Post a Comment